oleh

Penderita Corona Tembus 10 Juta, Harga Emas Bakal Melambung?

SULUTBICARA.com – Jumlah pasien positif virus Corona kini sudah menembus angka 10 juta orang di seluruh dunia. Sementara jumlah yang meninggal akibat virus ganas ini sudah mencapai 500 ribu orang.

Belum berakhirnya pandemi virus Corona membuat investor mencari investasi yang aman alias safe haven, salah satunya adalah emas.

Seperti dikutip dari riset CNBC Indonesia, mengawali pekan ini Senin (29/6/2020), harga emas dunia di pasar spot melemah tipis 0,12% ke US$ 1.768,8/troy ons. Di saat yang sama pada 09.00 WIB harga emas berjangka Comex menguat 0,24% ke US$ 1.776,7/troy ons.

Meski melemah, harga emas spot masih tetap berada di rentang level tertingginya dalam tujuh setengah tahun terakhir. Harga logam mulia tersebut pun kian mendekati level psikologis US$ 1.800/troy ons.

Negara-negara seperti Amerika Serikat dan India terus melaporkan lonjakan jumlah kasus baru beberapa hari terakhir. Kenaikan kasus yang terjadi harus membuat Texas mengurungkan niat untuk membuka kembali perekonomiannya.

Seluruh bar diminta untuk menutup operasinya, sementara restoran diminta untuk tetap beroperasi tetapi dengan kapasitas setengahnya.

“Pada saat ini, jelas bahwa peningkatan kasus sebagian besar didorong oleh jenis kegiatan tertentu, termasuk warga Texas yang berkumpul di bar,” kata Gubernur Texas Greg Abbott sebagaimana diwartakan CNBC International.

Florida juga mengumumkan akan melarang warganya berkumpul di bar setelah negara bagian tersebut melaporkan adanya lonjakan kasus baru yang hampir mencapai angka 9.000. Di Arizona, jumlah kasus melonjak 5,4%, melampaui rata-rata tujuh hari di 2,9%.

Dengan adanya risiko ketidakpastian ini investor memilih berlindung mencari suaka. Emas adalah pilihannya. Minat investor terhadap emas yang tinggi membuat harganya ikut melambung.

Bank investasi global Goldman Sachs memperkirakan bahwa harga emas akan tembus US$ 1.800/troy ons dalam waktu 12 bulan.

Faktor lain yang turut mendukung penguatan harga emas adalah laporan Dana Moneter Internasional (IMF) yang merevisi turun proyeksi ekonomi global tahun 2020 menjadi terkontraksi 4,9%.

Tak hanya itu, IMF dalam laporan Global Financial Stability-nya mengungkapkan bahwa antara pasar keuangan dan ekonomi terjadi diskoneksi.

Reli saham yang terjadi pasca 23 Maret lalu dinilai lembaga keuangan global tersebut rapuh dan rawan koreksi. Koreksi yang dimaksud adalah terpangkasnya harga aset keuangan 10% atau lebih.

“Mengacu pada pemodelan yang dibuat oleh staf IMF, perbedaan antara harga pasar dan valuasi fundamentalnya berada di level tertinggi dalam sejarah hampir di seluruh negara maju untuk pasar saham dan surat utangnya, meski yang terjadi justru sebaliknya untuk saham di beberapa negara berkembang” tulis laporan tersebut.

Ahli strategi ekuitas Citi, Tobias Levkovich, di hari Jumat, merilis hasil survei manajer dana institusional baru yang mengungkapkan kekhawatiran yang signifikan. Mereka mempertahankan uang tunai dua kali rata-rata untuk jangka jangka panjang.

Hanya sepertiga responden yang berpikir S&P akan kembali ke level awal Juni di atas 3.200 pada akhir tahun dan, ketika ditanya apakah pasar akan mengalami 20% drop atau 20% reli menunjukkan bahwa 70% manajer investasi memperkirakan penurunan sebesar 20%.

Di sepanjang tahun ini harga emas dunia telah menguat lebih dari 16%. Dengan adanya risiko ketidakpastian yang tinggi serta ancaman inflasi yang juga tinggi akibat rendahnya suku bunga hingga banjir stimulus fiskal dan moneter, prospek emas jangka panjang masih menarik.(dtc)

Komentar

Terkait