oleh

Ini Saran Baik CEP Hadapi Harga Cengkeh Sulut yang Anjlok

AMURANG, SULUTBICARA.com – Sulawesi Utara (Sulut) dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah, salah satunya cengkeh. Dulunya, petani cengkeh di Sulut mengalami masa keemasan dengan bergantung pada rempah-rempah yang dijuluki ‘emas coklat’. Maklum saja, kualitas cengkeh Nyiur Melambai masuk jajaran cengkeh terbaik dunia.

Namun, sejak industri rokok kretek masuk ke Indonesia, produksi cengkeh di Sulut sebagian besar terserap sebagai bahan baku rokok kretek.

Hal inilah yang membuat sebagian besar petani cengkeh di Sulut menggantungkan nasibnya pada industri rokok. “Kalau industri rokok ada masalah, pasti berpengaruh langsung pada harga cengkeh di petani,” ujar Bupati Minahasa Selatan (Minsel), Dr Christiany Eugenia Paruntu SE (CEP), Rabu (29/07/2020).

Itu sebabnya, Ketua DPD I Partai Golkar Sulut mendorong pemerintah agar mengeluarkan kebijakan, terutama soal harga minimum cengkeh. Selama ini belum ada kebijakan soal standar harga cengkeh di tingkat petani.

“Ada cara Tuhan yang ajaib untuk memberi berkat bagi para petani cengkeh. Pemerintah harus berupaya untuk mereduce pajak rokok yang setiap tahun meningkat. Demi untuk keberlanjutan petani cengkeh. Pabrik rokom wajib membeli dengan harga yang reasonable dan sustainable,” ungkap Calon Gubernur Sulut yang bakal berpasangan dengan Bupati Bolang Mongondow Timur (Boltim) Sulawesi Utara, Sehan Salim Landjar.

Diketahui, harga cengkeh tahun ini turun drastis menjadi Rp55.0000 sampai Rp60.000 per kilogram dari harga sebelumnya yang mencapai Rp90.000 sampai Rp100.000 per kilogram. Padahal, tahun ini hasil panen cengkeh di beberapa daerah di Sulawesi Utara sedang melimpah.

(sbc/wmt)

Komentar

Terkait