oleh

Tetty, Merah Menahan Benci

SETIAP pentas Pilkada dihelat selalu memunculkan berbagai kemelut dengan turbulensinya masing-masing. Tingginya kepentingan dan intrik serta luasnya cakupan keterlibatan banyak pihak, memungkinan plot menjadi kompleks dan ending terkadang liar, sulit diduga.

Untuk Pilkada serempak di Sulut, salah satu ‘angle’ yang memantik perhatian publik berhembus dari rimba belantara beringin kukuh Partai Golkar. Hembusan kali ini kadarnya bukan angin sepoi-sepoi, tetapi hampir mendekati badai. Pepohonan bergoyang, reranting bergetar, daun-daun berguguran ke bumi.

Dera badai kali ini termasuk fenomenal, dampaknya bahkan mampu mencipta sejarah baru dalam perjalanan partai penguasa Orde Baru di Sulut, saat terjadi aksi eksodus, manakala salah satu sosok ikonik PG Jimmy Rimba Rogi, bersulih sikap, menyeberang dan terang-terangan ada di PDI-Perjuangan, partai yang dulunya rival klasik PG.

Rona ‘penggembosan’ terhadap ketua PG Sulut Christiany Eugenia Paruntu (CEP) dalam merebut kemenangan di Pilkada serentak, kian mengental, ketika srikandi kota sejuk Tomohon Syerly Adelyn Sompotan yang awalnya mesra dengan CEP, belakangan mengikuti langkah Imba. SAS yang berusaha tegar beberapa kali menghibur ribuan fans dengan lantunan suara merdu, melalui syair yang ia gubah sendiri, seperti hendak menyindir realitas yang ia alami.

Angin perubahan bertiup deras, di puncak beringin Tetty tak terelakan menjadi pusat sorotan, ia dianggap biang meruyaknya komposisi dan konstalasi kandidat PG di beberapa daerah. Aura merah menahan benci meruap, terutama di tengah pendukung fanatik Imba dan SAS. Basis massa keduanya kompak mengikuti garis komando sosok yang mereka puja, mereka sukai, mereka idolakan.

‘’Ke mana pangilma bergerak ke situ torang mengarah,” sebut fans Imba sebagaimana terbaca di sejumlah postingan medsos. Setali tiga uang, meski dengan sentuhan lebih romantis, fans setia SAS pun seia-seirama. ‘’SAS tetap yang terbaik, torang tetap bersama,” umbar mereka.

Di kemelut ini, PDI-Perjuangan paling beruntung, mendapat berkah durian runtuh. Ketua DPD PDI-Perjuangan Sulut Olly Dondokambey dengan tangan terbuka menerima kedatangan tamu yang sebelumnya tak diundang. Dengan pengalamannnya, OD langsung mendaulat Imba dan SAS dengan peran yang tergolong strategis : Ketua tim relawan OD SK di Manado dan Tomohon.

Selesaikah durasi telenovela awal September berputar?, dengan tampilan yang selalu modis, cenderung gemulai, CEP bukanlah politisi yang baru mengecap dunia politik. Posisi faktual sebagai Ketua PG Sulut, sudah pasti menjadi garansi dan petunjuk paling simpel menakar kapasitas sosok yang identik dengan acungan jemari ibu dan telunjuk membentuk aksara C.

Lepas dari sisi kelemahan di kepemimpinannya, CEP membangun karir politik dari bawah, ia tertempa melewati berbagai etape dan pergulatan di partai ini. Satu hal yang perlu diingat ia tumbuh dalam asuhan dua paduan sosok berkarakter, sang ayah (Alm) Prof Dr Joppie Paruntu MS, paus pendidikan Sulut yang juga khatam di politik, serta Sang Ibu Dra Jenny Johana Tumbuan yang sampai saat ini ada di sampingnya.

CEP, berhitung dan mengkalkulasi segala sesuatu, pengalaman memberinya penguasaan ‘matematika politik’, tentang teori mana yang berkurang dan darimana mendapatkan nilai tambahan. Meski tak sederas eksodus Imba dan SAS, CEP merasa cukup mengirim pesan samar di akun medsosnya. Ia bersyukur tentang dia yang kembali ke naungan beringin.

Tanpa menyebut nama, namun umumnya tau ke arah mana pesan itu dilayangkan, karena di saat bersamaan, sosok tak kalah berpengaruh yang juga memiliki puluhan ribu pengikut, Jantje Wowiling Sajouw menyatakan sikap kembali ke PG dan mendukung penuh CEP-SSL di Pilkada Sulut.

Tentu masih ada hitungan lain yang bersemayam di benak CEP yang tak diketahui oleh publik berkait dramatugi Partai Golkar Sulut di awal bulan ini. Hitungan yang tak terungkap sangat mungkin menjadi kartu pilihannya, di sinilah kecakapan dan naluri kepemimpinan CEP dipertaruhkan.

Catatan: Reymoond “Kex” Mudami

Komentar

Terkait