SULUTBICARA.COM – Di balik seragam almamater biru, siapa sangka seorang mahasiswa dari Sulawesi Utara mampu menembus sistem keamanan milik National Aeronautics and Space Administration (NASA) Amerika Serikat?
Itulah yang dilakukan oleh Yonatan Natanael Tampi, mahasiswa Politeknik Negeri Manado (Polimdo), yang berhasil menemukan kerentanan dalam sistem siber NASA dan mendapat penghargaan resmi dari lembaga antariksa paling prestisius di dunia itu.
Lantas, bagaimana caranya siswa SMA ini bisa mengetahui kerentanan sistem keamanan NASA?
Berawal dari kecintaannya pada dunia teknologi informasi
Yonatan bukan hacker jahat. Ia adalah peneliti keamanan independen yang mengikuti program resmi milik NASA, yaitu Vulnerability Disclosure Program (VDP)—program yang mengizinkan siapa pun untuk menguji sistem NASA secara etis dan melaporkan kelemahan yang ditemukan. “Memang itu kan VDP, VDP itu adalah vulnerability disclosure program, jadi saya dapet penghargaan, yaitu berupa sertifikat apresiasi dari NASA,” ujar Yonatan saat dihubungi Sulutbicara.com, Jumat (06/03/2026).
Dia menjelaskan bahwa ia berperan sebagai pelapor melalui platform Bugcrowd, yakni layanan yang memfasilitasi para peneliti keamanan siber untuk menyampaikan temuan kerentanan kepada berbagai institusi besar secara resmi dan legal, termasuk NASA.
“Saya bertindak sebagai pelapor melalui Bugcrowd, yang menjadi penghubung antara peneliti keamanan dan lembaga terkait dalam program pelaporan kerentanan,” jelasnya.
Minat Yonatan di bidang keamanan siber telah tumbuh sejak masa SMK. Berawal dari ketertarikan pada dunia teknologi informasi, ia terus mengasah kompetensinya hingga berhasil mengidentifikasi celah keamanan pada salah satu sistem milik NASA.
Kerentanan yang ditemukan berkaitan dengan data yang bersifat sensitif dan tidak untuk dipublikasikan. Informasi tersebut mencakup data pribadi seperti nama, alamat, hingga jabatan strategis. Dari total 27 laporan yang dikirimkan, 13 di antaranya diterima dan dinyatakan sebagai kerentanan yang valid, tiga laporan dikategorikan berbeda (different), dan 11 lainnya tidak diterima.
Ketua Jurusan Elektro Polimdo, Marson Budiman, menegaskan bahwa setiap organisasi memiliki kebijakan dan mekanisme tersendiri dalam pengelolaan keamanan sistem dan basis data. Ia menjelaskan bahwa meskipun tindakan peretasan ilegal dapat dikenai sanksi hukum, terdapat jalur resmi dan legal yang memungkinkan pengujian sistem melalui mekanisme yang telah ditetapkan.
“Yonatan melakukan pelaporan melalui jalur yang sah. NASA menyediakan ruang pembelajaran melalui program pengujian sistem secara legal. Hal ini menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa, khususnya di bidang jaringan dan keamanan siber, agar mereka mampu mengimplementasikan ilmu secara bertanggung jawab,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa capaian pembelajaran di Jurusan Elektro tidak hanya terbatas pada praktik di laboratorium, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk menguji kompetensi mereka pada skala yang lebih luas melalui mekanisme legal dengan aturan yang jelas.
Wakil Direktur III Polimdo, Rudolf E.G. Mait, menyampaikan apresiasi atas prestasi yang diraih Yonatan. Menurutnya, pengakuan dari lembaga internasional seperti NASA merupakan capaian yang membanggakan sekaligus menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya.
(***)






Komentar