Cahaya Baru di Pulau Buhias

Uncategorized788 Dilihat

OLEH: Billy Lintjewas

Udara laut yang asin memeluk erat pesisir Pulau Buhias yang terletak di Kecamatan Siau Timur Selatan, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) sore itu. Sekian puluh tahun berlalu, senja di pulau kecil ini biasanya menjadi pertanda bagi warga untuk bersiap menyongsong kegelapan. Sejak Provinsi Sulawesi Utara berdiri 62 tahun silam, warga Buhias harus merajut malam dalam keterbatasan. Suara deru genset yang bising dan remang lilin telah menjadi teman setia dari generasi ke generasi.

Namun, sejarah berbalik arah.

Tanggal 16 Desember 2025 menjadi tonggak bersejarah yang tak akan pernah terhapus dari ingatan warga Pulau Buhias. Hari itu, sakelar utama PLN resmi diputar. Cahaya terang benderang seketika menerangi setiap sudut rumah, jalanan pulau, hingga ruang-ruang kelas sekolah. Senyum sumringah memancar dari wajah-wajah warga; senyum yang lahir bukan sekadar karena lampu yang menyala, melainkan tentang asa dan masa depan yang kini berpendar penuh selama 24 jam nonstop.

Setelah enam dekade lebih merindukan pasokan energi yang stabil, hadirnya listrik PLN sejak pertengahan Desember lalu menandai berakhirnya belenggu kegelapan di pulau tersebut. Terwujudnya kemerdekaan energi ini merupakan buah manis dari kolaborasi erat dan sinergi tanpa lelah antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan PT PLN (Persero).

Menembus Gelombang, Menyalakan Harapan

Menghadirkan listrik 24 jam ke pulau terdepan bukan perkara mudah. Bentang geografis yang menantang dan lautan luas sempat menjadi benteng pemisah antara kemajuan infrastruktur dan masyarakat setempat. Namun, kerja keras Pemprov Sulut serta PLN berhasil meruntuhkan dinding penghalang tersebut.

Infrastruktur kelistrikan dibangun secara intensif demi memastikan setiap kilowatt energi dapat dinikmati warga. Kehadiran PLN pada 16 Desember 2025 menjadi bukti nyata bahwa negara hadir hingga ke pelosok, memastikan tidak ada satu pun warga Sulawesi Utara yang tertinggal dalam kegelapan.

“Dulu kalau malam tiba, aktivitas praktis berhenti. Listrik hanya menyala beberapa jam, itu pun sering mati. Sejak PLN masuk tanggal 16 Desember lalu, kehidupan kami berubah total. Kami bisa beraktivitas kapan saja tanpa takut gelap lagi,” tutur salah seorang warga lokal dengan suara bergetar menahan haru, Rabu, 28 Oktober 2026.

Senyum Sekolah dan Pelita Masa Depan Anak Bangsa

Dampak paling nyata dari hadirnya aliran listrik 24 jam ini merembet langsung ke sektor pendidikan. Sekolah-sekolah di Pulau Buhias kini dapat menikmati akses energi tanpa henti, sebuah perubahan besar yang mendobrak keterbatasan proses belajar-mengajar selama ini.

Sebelum listrik PLN mengalir penuh, para guru harus bersusah payah mengajarkan literasi digital. Kegiatan belajar mengajar berbasis teknologi sering kali terkendala ketiadaan daya, sementara anak-anak sekolah kerap memaksakan diri belajar di bawah temaram lampu minyak saat malam hari.

Kini, pemandangan serba terbatas itu tinggal kenangan.

Sejak hadirnya aliran listrik PLN, komputer-komputer di laboratorium sekolah dapat beroperasi dengan lancar, kipas angin menyegarkan ruang kelas, dan perangkat jaringan internet terhubung dengan stabil. Anak-anak Pulau Buhias tak perlu lagi merasa minder dengan siswa di kota-kota besar. Mereka kini bisa menatap layar monitor, menjelajahi cakrawala pengetahuan dunia, dan menggapai cita-cita setinggi langit.

“Listrik 24 jam ini adalah hadiah terindah bagi anak-anak kami. Sekarang mereka bisa belajar malam hari dengan nyaman, dan di sekolah kami dapat memanfaatkan teknologi secara maksimal untuk mengajar,” ujar salah seorang tenaga di SDN Mantehage dengan suara bergetar menahan haru, Rabu, 28 Oktober 2026.

Fajar Baru Roda Perekonomian

Tak hanya menerangi sektor pendidikan dan rumah tangga, hadirnya listrik PLN 24 jam juga menjadi pemicu utama bergeraknya roda perekonomian warga Buhias yang mayoritas bergantung pada sektor kelautan dan UMKM.

Usaha es batu untuk pengawetan hasil tangkapan nelayan kini dapat beroperasi maksimal tanpa khawatir mencair. Warung-warung kecil dan industri rumah tangga pun mulai tumbuh dan membuka usahanya hingga malam hari.

Sejak tanggal 16 Desember 2025, Pulau Buhias resmi menyongsong fajar baru. Cahaya terang yang kini berkilau di tengah lautan bukan sekadar tentang ketersediaan daya listrik, melainkan simbol keadilan sosial, sinergi pemerintah, dan harapan yang terus menyala bagi masa depan anak-anak Pulau Buhias dan Sulawesi Utara.

(***)

Komentar