oleh

Laksanakan Upacara Wisuda Secara Luring dan Daring, Polimdo Perketat Protokol Kesehatan

MANADO, SULUTBICARA.com – Di tengah pandemi Covid-19 yang belum memiliki tanda kapan segera berakhir, suasana pelaksanaan wisuda yang biasanya ramai dengan selebrasi dari orang tua maupun kerabat para wisudawan/i menjadi berubah.

Pelaksanaan wisuda sebagai agenda sakral perkuliahan dikebanyakan Perguruan Tinggi dilakukan secara daring (dalam jaringan). Namun berbeda dengan Politeknik Negeri Manado (Polimdo), yang tetap melaksanakan Sidang Terbuka Senat Polimdo Wisuda Tahun 2021 Program Sarjana Tarapan dan Diploma III Tahun Akademik 2020/2021 secara luring (luar jaringan) dan daring di Auditorium Prof Ruddy Tenda, Kamis (30/09/2021).

Direktur Polimdo, Dra Mareyke Alelo MBA dalam sambutannya menyampaikan pesan tentang filosofi Toga yang Wisudawan gunakan. Menurutnya, Toga merupakan salah satu perlengkapan wajib saat wisuda. Proses untuk bisa memakai toga tak mudah. Wisudawan harus berjuang bertahun-tahun melalui masa kuliah agar bisa memakainya dengan bangga saat wisuda.

“Warna hitam yang berati kegelapan. Seperti yang sering kita lihat, toga identik dengan warna hitam. Warna hitam pada toga yang berarti misteri dan kegelapan inilah yang harus dikalahkan oleh seorang sarjana. Dengan ilmu pengetahuan yang selama ini didapatkan pada masa kuliah, seorang sarjana diharapkan dapat menyibak kegelapan,” jelasnya.

Dia juga menjelaskan mengapa topi wisuda harus persegi. Menurutnya, sudut-sudut pada topi dimaksudkan agar mahasiswa yang telah memakainya, dituntut untuk berpikir secara rasional.

“Tidak hanya itu, topi toga juga berarti seorang sarjana harus memandang sesuatu dari berbagai sudut pandang. Jangan sampai setelah lulus dari perguruan tinggi, tapi pikiran dan perbuatannya  masih saja sempit dan labil,” terang Alelo.

Lanjut dikatakan Alelo, untuk makna tali pada topi toga yang dipindah dari kiri ke kanan diibaratkan sebagai otak. Saat kuliah, mahasiswa menggunakan otak kiri yang berhubungan materi, bahasa, dan juga hafalan.

“Ketika wisuda, tali dipindah ke kanan dengan harapan sarjana lebih menggunakan otak kanan yang berhubungan dengan daya imajinasi, kreativitas dan juga inovasi,” paparnya.

Selanjutnya, Alelo mengungkapkan rasa terima kasih kepada Gubernur Sulut Olly Dondokambey yang telah memberikan izin melakukan wisuda secara luring.

“Ini sebagai jawaban dari kerinduan serta keinginan sebagian besar mahasiswa untuk merasakan atmosfer wisuda meskipun harus berurusan dengan protokol kesehatan ketat yang telah diatur oleh universitas,” ungkap Alelo disambut tepuk tangan.

Sementara itu, Gubernur Sulut melalui Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan, Steve Kepel ST MSi menyampaikan ucapan selamat kepada wisudawan/wisudawati beserta orangtua mereka atas kelulusan sebagai sarjana.

“Sudah diwisuda artinya proses belajar telah selesai, namun jangan sampai berhenti untuk terus belajar. Terlebih lagi saat ini kita menghadapi kondisi pendemi dan dunia industri 4.0,” katanya.

Sebelumnya, Wakil Direktur Bidang Akedemik, Dr Tineke Saroinsong SST MEng dalam laporan akademik menyampaikan bahwa lulusan sampai dengan tanggal 17 September 2021 berjumlah 13.440 orang yang terdiri dari Program Diploma I 29 orang, Program Diploma II 1.320 orang, Program Diploma III Ahli Madya 8.211 orang dan Program Sarjana Terapan 3.889 orang.

“Sedangkan jumlah peserta wisuda gelombang I secara luring tahun 2021 sebanyak 477 orang yang terdiri dari Program Diploma III Ahli Madya 180 orang dan Program Sarjana Terapan 297 orang. Adapun lulusan Polimdo sampai tahun 2021 berjumlah 13.926 orang,” ungkap Wadir Tineke.

Adapu kegiatan wisuda ini turut dihadiri Ketua Senat Rudolf Mait ST MT, Wadir II Susy Marentek SE MSA, Wadir III Selvy Kalele SE MSi, mantan Direktur Ir Ever Slat MT, mantan Direktur Marhani Pua, anggota senat dan tamu undangan lainnya.

(bil/*)

Komentar