SULURBICARA.COM — Di dunia fiksi Marvel, Tony Stark dikenal sebagai miliarder genius yang mampu menciptakan rekayasa teknologi mutakhir demi kemaslahatan dunia.
Di dunia nyata Indonesia, julukan bernada kekaguman tersebut kerap disematkan oleh kalangan akademisi dan pegiat teknologi kepada Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D.
Bukan karena baju zirah besi terbangnya, melainkan karena konsistensi, kejeniusan, dan dedikasi luar biasanya dalam mengembangkan teknologi material maju (advanced materials) dan energi terbarukan di tanah air.
Sebagai salah satu ilmuwan terkemuka dari Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian Energi Baru dan Terbarukan (PPEBT) ITB, Prof. Brian telah melahirkan puluhan inovasi yang berfokus pada masa depan energi hijau. Karakter risetnya yang visioner dan aplikatif membuat banyak pihak menyamakannya dengan sosok inventor jenius tersebut.
Fokus pada Sel Surya dan Sensor Pintar
Jika Stark memiliki Arc Reactor sebagai sumber energi bersih, Prof. Brian berfokus pada pengembangan komponen sel surya (solar cell) generasi baru yang lebih efisien dan murah.
Menggunakan basis teknologi nano (nanotechnology research), ia dan timnya terus merekayasa material berskala atom untuk diaplikasikan pada perangkat penangkap energi matahari guna mengurangi ketergantungan Indonesia pada bahan bakar fosil.
Tak hanya itu, kepakarannya di bidang functional materials juga menghasilkan berbagai perangkat sensor pintar (smart sensors). Sensor-sensor mikro ini dirancang untuk mendeteksi polusi lingkungan, kebocoran gas berbahaya, hingga pemantauan kualitas air secara real-time.
Langkah konkret ini dinilai sangat krusial bagi digitalisasi industri dan menjaga keberlanjutan ekosistem lingkungan di Indonesia.
Jembatan Antara Laboratorium dan Industri
Salah satu alasan kuat mengapa gelar “Tony Stark” terasa relevan adalah komitmen Prof. Brian untuk tidak membiarkan risetnya hanya berakhir sebagai tumpukan kertas laporan atau jurnal ilmiah semata. Ia dikenal sangat vokal dalam mendorong hilirisasi teknologi menjembatani temuan dari meja laboratorium agar bisa diproduksi massal dan digunakan langsung oleh sektor industri nasional.
“Langkah-langkah strategis yang diambil Prof Brian menunjukkan pemahaman yang sangat mendalam terhadap kebutuhan riil di lapangan. Ini adalah sebuah terobosan yang tidak hanya visioner, tetapi juga solutif bagi masa depan universitas dan lulusan kita,” ungkap Rektor Unsrat, Prof Berty Sompie saat kunjungan Prof Brian di Bumi Nyiur Melambai belum lama ini.
Pengakuan Global dan Inspirasi Generasi Muda
Rekam jejak akademis Prof. Brian Yuliarto juga diakui secara internasional. Lulusan Universitas Tokyo ini telah mempublikasikan ratusan artikel ilmiah di jurnal bereputasi global dengan indeks sitasi yang sangat tinggi.
Di tengah kesibukannya melakukan riset berskala besar, ia tetap aktif mengajar dan membimbing talenta-talenta muda Indonesia, mempersiapkan “Avengers” masa depan di bidang sains dan teknologi.
Di era di mana Indonesia tengah memacu transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE), kehadiran ilmuwan visioner seperti Prof. Brian Yuliarto bak oase.
Julukan “Tony Stark Indonesia” mungkin terdengar jenaka di telinga sebagian orang, namun bagi dunia sains tanah air, itu adalah simbol harapan bahwa masa depan teknologi Indonesia berada di tangan yang tepat.
(***)










Komentar