oleh

Diterpa Isu Hoaks Plagiat, Okta Lintong: Kalah Menang Sudah Diatur Tuhan

MANADO, SULUTBICARA.comBelakangan ini santer beredar sejumlah fitnah dan tudingan miring yang dialamatkan kepada Calon Direktur Politeknik Negeri Manado (Polimdo), Okta Lintong. Suami Pdt Estefin Parengkuan ini mengaku tak terganggu dengan ‘serangan’ itu dan beraktivitas sebagaimana biasanya.

“Biarkan saja. Kalah menang sudah diatur Tuhan. Kita hanya bisa berdoa dan bekerja. Yakinlah, bahwa orang yang selalu jujur akan memiliki hati yang tenang dan diberkati Tuhan,” ungkap Ketua Senat Polimdo ini, Kamis (03/12/2020).

Belakangan, beredar fitnah bahwa Kajur Pariwisata ini tidak netral dalam pemilihan Direktur Polimdo sebelumnya. Menurut si pemfitnah, Ketua Senat dinilai telah membuat penafsiran yang keliru atas amanat Permenristekdikti nomor 19 tahun 2017.

Belum sampai fitnah itu diklarifikasi Okta Lintong, Kemendikbud tidak meloloskan Debby Wilar dalam pemilihan ulang Direktur Polimdo. Hal ini membantah fitnah bahwa Okta Lintong keliru dalam penafsiran Permenristekdikti nomor 19 tahun 2017, sekaligus membela keputusan Ketua Senat tersebut.

Begitu pula ketika menanggapi isu hoaks terkait jurnal yang dituding plagiat. Menurut Okta Lintong, tuduhan itu muncul karena ketidakpahaman menangkap maksud surat keterangan yang diterbitkan Rumah Publikasi Indonesia secara utuh.

“Jadi pada tahun 2018, saya bersama Pak Dannie Oroh membuat jurnal untuk diikutkan pada International Conference on Applied Science and Technology (iCAST). Dan hasil kami dinyatakan tidak lolos oleh pihak Atlantis Press dikarenakan Out of Scope. Hal tersebut terjadi karena Atlantis Press hanya menerima dua kategori, yaitu sosial dan sains. Sedangkan jurnal kami dikategorikan teknologi, makanya tidak lolos dikarenakan out of scope,” terang Lintong.

Meski tampak tenang, Okta Lintong tetap mengimbau kepada seluruh civitas dalam mencerna informasi. Kemudahan teknologi informasi yang mengandung sisi negatif mesti disikapi dengan hati-hati.

“Tiap ada informasi harus dicek, kalau bagi umat Muslim disebut tabayun, apakah benar atau tidak sehingga tidak ada pihak yang dirugikan,” tuturnya.

Dia menjelaskan modal keikutsertaannya dalam pemilihan Direktur Polimdo banyak belajar dari keteladanan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

“Saya banyak belajar dari keteladanan Pak Nadiem Makarim yang tidak setengah-setengah dalam menjalani karir, pintar melihat peluang, super inovatif, menciptakan lapangan kerja baru dan ingin memajuka negaranya,” tutup dosen low profile ini.

(billy lintjewas)

Komentar

Terkait