SULUTBICARA.COM – Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado menerima kunjungan kerja Koordinator Khusus Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia, H Farid Saenong MA PhD dalam kegiatan Pembinaan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dilaksanakan di Aula IAKN Manado, Senin (2/2/2026) dan diikuti oleh seluruh ASN di lingkungan IAKN Manado.
Rektor IAKN Manado, Dr Olivia Cherly Wuwung ST MPd dalam sambutannya menyampaikan bahwa kehadiran Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI merupakan kehormatan besar sekaligus momentum penting bagi penguatan budaya kerja ASN di lingkungan IAKN Manado.
“Pembinaan ASN hari ini menjadi pengingat bahwa kita bukan sekadar pegawai administratif, melainkan pelayan publik, pelayan pendidikan, serta pelayan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan. Kualitas ASN akan menentukan wajah IAKN Manado sekaligus wajah Kementerian Agama di Sulawesi Utara,” ujar Rektor.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor juga memaparkan perkembangan kelembagaan IAKN Manado, khususnya upaya pembenahan penjaminan mutu dan akreditasi program studi, serta persiapan transformasi kelembagaan menuju Universitas Kristen Negeri (UKN). Transformasi tersebut, menurut Rektor, tidak hanya menyangkut perubahan nomenklatur, tetapi juga perubahan paradigma tata kelola, penguatan SDM, dan peningkatan kualitas layanan pendidikan tinggi.
Sementara itu, H Farid Saenong MA PhD dalam arahannya menegaskan bahwa tugas Staf Khusus Menteri Agama adalah mengidentifikasi berbagai persoalan yang terhambat oleh birokrasi maupun hal lain yang belum tertangani secara optimal, sekaligus menjadi pemicu semangat kerja ASN sebagai perpanjangan tangan Menteri Agama.
Dia mengapresiasi langkah IAKN Manado dalam mempersiapkan transformasi menuju UKN dan mendorong seluruh ASN untuk tetap menjaga semangat kolektif agar cita-cita tersebut dapat terwujud.
Menurutnya, keberadaan kampus keagamaan yang mengusung nilai moderasi beragama akan menjadi sejarah penting dalam pengembangan pendidikan tinggi keagamaan Kristen negeri di Indonesia.
Lebih lanjut, Farid Saenong menekankan pentingnya keterkaitan seluruh program dan aktivitas institusi dengan Asta Protas Kementerian Agama, termasuk implementasi Ekoteologi dan Kurikulum Cinta. Ekoteologi, menurutnya, menjadi tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan hidup sebagai warisan bagi generasi mendatang.
“Semua aktivitas dan program harus dikaitkan dengan Asta Protas Kementerian Agama. Pelaksanaan ekoteologi adalah wujud kepedulian kita terhadap lingkungan agar dapat diwariskan kepada anak-anak kita,” jelasnya.
Farid Saenong juga menjelaskan bahwa Kurikulum Cinta pada dasarnya menekankan nilai kasih, kepedulian, dan penghargaan terhadap sesama, terutama dalam konteks keberagaman dan kelompok minoritas. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat diinternalisasi dalam proses pendidikan dan kehidupan akademik di perguruan tinggi keagamaan.
“Saya berharap sivitas akademika mampu menjalankan program ekoteologi dan kurikulum cinta ini dengan baik, sehingga kampus benar-benar menjadi ruang pembelajaran yang humanis, inklusif, dan berdampak bagi masyarakat,” tutupnya.
(***)










Komentar