oleh

Dikda Sulut Gelar Sosialisasi Sekolah Merdeka Belajar di SMAN 1 Manado

MANADO, SULUTBICARA.com

Dinas Pendidikan Daerah (Dikda) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menggelar sosialisasi Kurikulum Merdeka sebagai bagian dari Merdeka Belajar yang digagas Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) untuk mentransformasi pendidikan Indonesia.

Alasannya, selama 20 tahun ini terjadi krisis pembelajaran yang semakin di perparah lagi dengan learning loss akibat pandemi Covid-19 serta untuk membuat pendidikan semakin relevan dengan perubahan yang terjadi.

“Mudah-mudahan program ini menjadi sarana bagi kami untuk mewujudkan pelaksanaan sekolah merdeka belajar,” kata Kadis Dikda Sulut dr Lisje GL Punuh MKes di SMA Negeri 1 Manado, Senin (14/03/2022).

Menurutnya Dalam Kurikulum Merdeka, pendidikan berpatokan pada esensi dari belajar di mana masing-masing anak memiliki bakat dan minatnya masing-masing. Karena itu tolok ukur yang diterapkan untuk menilai kedua anak yang memiliki minat berbeda pun tidak sama.

Sehingga setiap anak tidak bisa dipaksakan untuk mempelajari sesuatu hal yang tidak disukainya.

Beberapa keunggulan Kurikulum Merdeka. Pertama, lebih sederhana dan mendalam karena kurikulum ini akan fokus pada materi yang esensial dan pengembangan kompetensi peserta didik pada fasenya.

Kemudian, tenaga pendidik dan peserta didik akan lebih merdeka karena bagi peserta didik, tidak ada program peminatan di SMA, peserta didik memilih mata pelajaran sesuai minat, bakat, dan aspirasinya. Sedangkan bagi guru, mereka akan mengajar sesuai tahapan capaian dan perkembangan peserta didik.

“Lalu sekolah memiliki wewenang untuk mengembangkan dan mengelola kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik,” ungkap mantan Kadis Kesehatan ini.

Keunggulan lain menurut mantan Kadis Sosial ini dari penerapan Kurikulum Merdeka ini adalah lebih relevan dan interaktif di mana pembelajaran melalui kegiatan projek akan memberikan kesempatan lebih luas kepada peserta didik untuk secara aktif mengeksplorasi isu-isu aktual, misalnya isu lingkungan, kesehatan, dan lainnya untuk mendukung pengembangan karakter dan kompetensi Profil Pelajar Pancasila.

Oleh karena itu Kurikulum Merdeka memungkinkan setiap sekolah menemukan cara khas dalam mendidik anak murid. Sekolah itu yang paling tahu situasi yang ada di sekitarnya dan kondisi anak muridnya.

Kurikulum merdeka adalah opsi atau pilihan bagi sekolah, sesuai dengan kesiapan masing-masing. Tidak ada transformasi proses pembelajaran kalau kepala sekolah dan guru-gurunya merasa terpaksa.

Satuan pendidikan dapat memilih tiga opsi dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka pada Tahun Ajaran 2022/2023. Pertama, menerapkan beberapa bagian dan prinsip Kurikulum Merdeka tanpa mengganti kurikulum satuan pendidikan yang sedang diterapkan. Kedua, menerapkan

Kurikulum Merdeka menggunakan perangkat ajar yang sudah disediakan. Ketiga, menerapkan Kurikulum Merdeka dengan mengembangkan sendiri berbagai perangkat ajar.

Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman para kepala sekolah terhadap kurikulum merdeka sehingga nantinya dapat menentukan opsi yang akan dipilih terkait implementasi kurikulum merdeka di sekolah masing-masing.

“Program ini tidak hanya ditekankan pada kepala sekolah atau gurunya, tapi seluruh komponen yang ada di sekolah ini harus bersatu padu dan bersinergi demi mewujudkan sekolah merdeka belajar,” jelas Punuh.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Dr Drs Hermanus Bawuoh MSi, Drs Yohanes Donbosco dan Kepala SMAN 1 Manado Jemmy James Jermias SPd.

(bil)

Komentar

Terkait