oleh

Luar Biasa! Polimdo Lakukan Hilirisasi Hasil Riset di Desa Budo

MANADO, SULUTBICARA.com

Sebagai wujud nyata komitmen Politeknik Negeri Manado (Polimdo) dalam mendampingi desa Budo, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara sebagai desa binaan, pihak Polimdo tetap berbenah memanfaatkan berbagai potensi lokal yang dikembangkan sebagai salah satu bentuk keunikan wisata yang ada.  

Setelah lolos masuk dalam 50 besar anugerah desa wisata Indonesia tahun 2022, masyarakat desa Budo, tetap berkomitmen untuk memajukan wisata di desanya dengan melengkapi berbagai fasilitas wisata yang ada didesa. Kali ini fasilitas wisata yang dibangun adalah cottage atau rumah penginapan untuk wisatawan/ tamu asing.

Hendrik Lumi, yang merupakan pemilik lokasi tempat cottage yang dibangun menyampaikan rasa terima kasih kepada Polimdo karena telah memberikan pengetahuan tentang model penginapan dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal yang ada.

Sebagai seorang orang awam, awalnya dirinya berpikir berapa besar anggaran yang dibutuhkan untuk membangun penginapan, karena harus membeli material seperti kayu danseng serta bahan lainnnya untuk membangun penginapan.

“Namun beruntung saya mendapatkan pengetahuan dan konsep yang unik bahwa membangun penginapan itu tidak harus menggunakan material yang dibeli di toko tetapi memanfaatkan keseluruhan sumber daya lokal yang ada di kebun,” ujar Lumi yang juga menjabat ketua Badan Musyawarah Desa Budo, Rabu (21/09/2022).

Sementara itu, Ketua tim pengabdian masyarakat, Benny I Towoliu menjelaskan bahwa banyak hal yang belum diketahui oleh masyarakat, terkait penataan dan pengembangan fasilitas pariwisata seperti homestay, gazebo, cottage dan fasilitas lainnya.

“Mereka masih bingung dan dipikiran mereka, tidak punya apa-apa dan selalu harus punya uang yang banyak, atau berpikir bikin proposal untuk mengharapkan bantuan fasilitas wisata,” jelasnya.

Menurutnya, masyarakat belum mengerti dan sadar saja bahwa sebenarnya mereka memiliki bahan baku untuk membangun fasilitas wisata tersebut.

“Padahal 80% bahan dasarnya ada di kebun mereka. Fasilitas wisata tidak harus yang canggih, dengan bahan baku yang mahal, namun unik dengan kearifan lokal yang dimiliki itu sebenarnya di sukai oleh tamu, apalagi kalau yang ditargetkan wisatawan asing, mereka lebih suka hal-hal yang sederhana, unik dan mencerminkan kearifan lokal,” paparnya.

Dijelaskannya, wisatawan asing sudah bosan dengan hal-hal rutinitas yang terlalu mewah. Menurutnya, wisman justru ingin keluar dari rutinitas yang ada, dan menyendiri bergaul dengan masyarakat lokal.

“Namun saya tekankan fasilitas wisata harus bersih, tertata dengan rapi, serta memiliki lingkungan yang sehat, itu yang dibutuhkan tamu,” tegasnya.

Seperti diketahui, bahwa model pengembangun fasilitas wisata ini merupakan hilirisasi dari hasil penelitian yang berjudul Desain Pengembangan Fasilitas Wisata Ciri Khas Kearifan Lokal, tahun 2020 lalu, yang implementasi dilakukan di tahun 2022.

Saat ini proses pendampingan sudah berjalan hampir 3 bulan lebih yaitu sejak tgl 18 juni 2022 lalu, dan sesuai rencana ada 4 buah penginapan (cottage) yang akan dibangun.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Bumdes Budo Hani Singa, menyampaikan bahwa desa Budo beruntung memiliki ‘orang tua asuh’ Polimdo, yang setiap saat bisa datang mengeluh meminta bantuan ide dan pengetahuan. “Sekali lagi kami berterima kasih untuk kehadiran Polimdo yang selalu ada bersama-sama dengan kami di desa Budo,” pungkasnya.

(sbc)

Komentar